Indonesia,  Travel

Jalan-jalan ke Curug Ciherang

Akhir-akhir ini saya sering sekali melihat foto-foto air terjun yang bagus sekali di explore Instagram saya. Sebagai wanita dengan zodiak berlambang ikan, tentu saja saya senang sekali wisata ke tempat yang penuh elemen air (ini kaya Avatar ya hehheheeh). Kebetulan sekali ada trip BPJ ke air terjun curug Ciherang yang “dibawa” bang Ferdinan. Saya kenal dengan Bang Fer karena pernah menjadi peserta pelatihan blog KUBBU tahun lalu. Singkat kata singkat cerita saya pun daftar ikut trip ini.

Di trip ini peserta diminta berkumpul di stasiun Nambo jam 9 pagi. Berhubung jadwal commuter line ke Stasiun Nambo hanya tiga kali sehari, saya tak boleh ketinggalan. Bisa sengsara nanti. Untungnya saya terus tanya kereta sudah di mana, dan minta diberi tahu kalau kereta sudah merapat di Stasiun Kalibata tempat saya menunggu.

Perjalanan menuju stasiun Nambo ditempuh kurang lebih 45 menit. Kami turun dari gerbong dan berkumpul di pintu stasiun. Ternyata dari stasiun Nambo masih membutuhkan waktu tiga jam menuju Curug Ciherang. Kami tak langsung berangkat, karena ada beberapa orang yang telat dan menyusul naik mobil. Sambil menunggu kami malah asyik jajan di SD dekat stasiun Nambo.

Sampai di Stasiun Nambo Bogor

Angkot yang membawa kami pun mulai berjalan menuju Curug Ciherang setelah rombongan lengkap. Jalur jalan yang tak bisa dibilang mulus ini tak mengurangi keceriaan kami di dalam angkot. Sejam hingga dua jam kami masih sibuk tertawa-tawa saling ledek hingga masuk jam ketiga kami mulai bosan dan hujan pun turun dengan derasnya.

Hujan yang makin deras membuat kami berhenti di sebuah warung makan. Mobil angkot juga mulai kelelahan mendaki dan ikut istirahat.  Sambil menunggu hujan mereda kami pun makan di warung itu. Tak sampai satu jam, perjalanan pun dilanjutkan dan kami tiba di pelataran parkir kawasan curug Ciherang.

Debur Air Terjun yang mendebarkan

Menuju ai r terjun Ciherang, kami naik mobil kecil disambung  jalan kaki sebentar. Benar saja, setibanya di air terjun, deburan air yang jatuh di bebatuan sangat nyaman di telinga. Cuaca sehabis hujan membuat kawasan air terjun seolah berkabut. Langkah menuruni  jalan setapak di sisi air terjun menuju aliran sungai yang lebih tenang. Meski udara dingin tapi kami nekat masuk ke dalam air. Seru juga main air sehabis hujan. Seperti biasa kami berfoto-foto di dalam air sungai.

angkutan ke air terjun
Curug Ciherang

baca juga:Curug Cilember dan kenangannya

Rumah Pohon yang Nyaman

Keunikan air terjun Curug Ciherang dibandingkan curug lain adalah rumah pohon dan kolam renang. Hampir semua orang di masa kecilnya pasti pernah bermimpi punya rumah pohon untuk main, sama seperti perasaan saya ketika melihat rumah pohon Curug Ciherang. Seolah mengunjungi impian masa kecil.

rumah pohon

Rumah pohon berwarna jingga kemerahan ini cukup luas untuk berfoto, bahkan tersedia juga penyewaan kostum  ala Korea untuk berfoto.  Cuaca makin dingin, angin yang bertiup kencang tapi tetap saja kami berfoto dengan santai seolah pemilik rumah pohon, pengunjung lain hanya mengontrak.

Kolam renang dengan pemandangan perbukitan

Satu lagi keistimewaan kawasan wisata Curug Ciherang yaitu adanya kolam renang dengan pemandangan perbukitan. Kolam renang ini tidak punya dinding pembatas jadi sambil berenang bisa melihat hijaunya perbukitan. Di kolam renang ini juga ada replika perahu ukuran besar dan kece juga untuk dijadikan spot berfoto yang instagramable.

Replika perahu di dekat kolam renang
Kolam renang yang punya pemandangan perbukitan

Mari Pulang … marilah pulang

Usai berenang , mandi  serta rapi-rapi kami semua berkumpul di restoran depan kolam renang. Acaranya saling berkenalan, games dan juga kuis berhadiah t-Shirt BPJ. Saya pun memenangkan salah satu t-shirt, lumayan.

Hari semakin sore, kami pun bersiap pulang. Mengingat perjalanan dari Curug Ciherang menuju Stasiun Nambo akan menghabiskan waktu tiga jam saya pun membeli pop mie untuk bekal. Kondisi perut kembung akibat main air sekalligus kena angin dingin membuat saya hanya bisa makan air hangat pop mie, mie saya sumbangkan ke Bagas dan Titi. Takut mual, takut muntah gengsi dong ah, mau dikemanain ini muka?

Tiga jam ajruk-ajrukan yang menyiksa pun berakhir sudah saat angkot memasuki pelataran stasiun Nambo. Karena jam kedatangan kereta masih agak lama, kami pun makan malam di sekitar stasiun.  Jam sembilan kami semua naik kereta yang ternyata hanya menuju stasiun Citayam. Dari Citayam  kami lanjut lagi kereta menuju Jakarta dan berpisah di stasiun tujuan masing-masing.

Meski pulang dengan perut kembung tapi saya senang-senang saja main ke Curug Ciherang. Selanjutnya curug mana lagi yaa yang harus didatangi?

Baca juga: Curug Petung Kudus

37 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *