Indonesia,  lain-lain,  Travel

Kisah dari Pulau Pari di Ulang Tahun Ke-6 Backpacker Jakarta

Stasiun Kota Tua Menjelang Tengah Malam

Dengan tergesa-gesa saya turun dari ojek di depan stasiun Kalibata dan berlari memasuki peron stasiun. Kereta terakhir menuju stasiun Kota Tua tengah melintas dan tentu saja tak akan lama berhenti. Saya pun menarik nafas lega setelah berhasil masuk gerbong, setelah dapat duduk saya melihat sekeliling banyak sekali orang-orang membawa carrierl, matras dan perabotan lainnya. Kami saling tatap kemudian menyunggingkan senyum maklum seolah berkata “sesama anak Backpacker Jakarta yang mau ke pulau Pari ya.”

Beberapa stasiun telah terlewati dan tibalah saya di stasiun terakhir. Beberapa teman saya dari BPJ RT 29 sudah duduk-duduk di dekat kursi pijat. Kami duduk di lantai sambil menunggu beberapa teman yang masih di jalan. Setelah rombongan lengkap, kami keluar gedung stasiun dan memutuskan untuk menyewa angkot  menuju demaga Kaliadem.

Kumpul di stasiun kota

baca juga: Kopdar pertama RT 2 BPJ

Zen, teman saya dari Kubbu pun tergopoh-gopoh menyusul saya, seharusnya ia ikut dengan rombongan Kubbu. “Mau berangkat bareng kak Yun aja.” selorohnya. maklum kami sudah lama tak bertemu dan saling curhat. Ditambah Bang Amin dari Klub lari maka lengkap sudah rombongan kami masuk angkot dan berangkat menuju Kaliadem.

Dini hari di Dermaga Kaliadem

Denging suara nyamuk berputar-putar menemani obrolan saya dengan Zen di pinggiran warung-warung. Dermaga Kaliadem yang tengah direnovasi membuat kami terpaksa beristirahat dekat warung-warung menunggu pagi. Teman-teman saya sudah merabahkan tubuh di atas flysheet yang mereka gelar di atas tanah.

Ada sebuah cerita lama yang dulu paling malu saya ungkap, kini dengan santainya bisa saya ceritakan hingga Zen pun terpana serta terkaget-kaget mendengarnya. Waktu makin menuju dinihari, saya dan Zen pun menggelar flysheet dan tidur sebentar.

Berangkat

Satu persatu peserta bermunculan, sebagai PIC RT saya harus lapor pada panitia — yang lucunya mengenakan kaos kuning bertuliskan “orang dalem” – untuk mengambil  gelang oranye sebagai tanda peserta ulang tahun keenam BPJ di pulau Pari.

hayo tangan saya yang mana?

Setelah rombongan kami lengkap, saya pun melapor pada panitia di tangga, kemudian masuk ke area kapal. Melewati dua kapal, akhirnya kami masuk kapal Bima. Ada beberapa RT lain yang sama-sama menempati kapal tersebut. Setelah nyaris tiga jam berlabuh di matamu eh di laut sampailah kapal kami di dermaga Pulau Pari.

Suasana di kapal

Satu persatu peserta naik ke daratan dan menjejakkan kakinya di Pulau Pari. Kami berjalan kaki menuju pantai pasir perawan. Di area pantai sudah disediakan camping area untuk setiap RT. Kami pun membuat tenda di area yang telah disediakan. Area tenda RT 29 berdekatan dengan RT 33 dan RT 10.

ucapan selamat datang

Enjoying Pulau Pari

Area tenda cukup sejuk dinaungi pepohonan. Angin laut sesekali berhembus. Rangkaian acara perayaan ulang tahun keenam Backpacker Jakarta pun dibuka dengan tarian dari klub talent.

Camping area

Makin siang udara makin panas menyengat namun tak mengurangi keriuhan ratusan anggota BPJ yang sibuk bergoyang sesuai iringan musik yang dibawakan oleh klub talent. Acara pun dihentikan menjelang sore. Selama di panggung utama sedang diadakan talkshow rombongan saya pun bersantai-santai di tenda.

pembukaan acara oleh BPJ talent

Salah satu acara utama adalah penanaman mangrove di pulau Pari setelah itu peserta dibebaskan main sepada di sekitar pantai atau sekedar berjalan-jalan menikmati suasana pantai.

perwakilan RT dan klub BPPJ berfoto
JJS di pinggir pantai

Serunya acara ultah

Di ulang tahun BPJ tahun ini diadakan dua lomba seru yaitu lomba memasak estafet dan lomba Lypsinc. Ini pertama kalinya diadakan lomba memasak, estafet pula. Saya, Athiya, Nelsi dan Suci turun mewakili RT 29. Kami yang membawa peralatan seadanya jadi sedikit  jiper melihat peserta dari RT lain yang peralatan hingga kostumnya heboh.

peserta lomba masak estafet

Perlombaan masak secara estafet pun dimulai tak lama setelah panitia membagikan bahan utama. Kami semula akan masak nasi goreng, tapi ternyata bahan utamanya adalah tahu. Dalam sekejap kami harus segara mengganti resep masakan.

kondisi panik dan grogi selama lomba

Selama lomba berlangsung, kompor baru saya seolah-olah ikut grogi. Sebentar kompor itu menyala, sebentar tidak bikin kami semakin grogi. Sebagai peserta terakhir di grup estafet saya harus memperbaiki dan menyelesaikan masakan yang sudah dipegang 3 orang. Dan waktupun habis, kami harus menunggu giliran penilaian oleh juri.

Saya sampai tertawa sendiri saat harus membawa masakan kami ke meja juri. Wajah juri terutama Omed seperti agak ragu saat harus mencoba masakan kelompok saya hahahaha. Selesai lomba masak, kami bersiap bersih-bersih.

Wajah Omed yang nampak khawati melihat masakan saya

foto dokumentasi Klub KF BPJ

Jam tujuh malam area panggung utama sudah mulai penuh. Lomba lypsinc akan segera dimulai. Berdasarkan penarikan undian tadi siang, RT 29 dapat urutan nomor terakhir. Satu persatu RT tampil dengan segala kehebohannya. RT 29? Kami akan lypsinc lagu Benyamin S. Tanpa kostum atau perabotan lainnya. Yang penting berpartisipasi, itu slogan RT 29.

“”Ogah ah di situ aja, dasar emang lelaki emang maunya menang sendiri
“Foto dulu sebelum lomba lypsinc

Usai Lomba lypsinc, DJ sudah siap di tempat. Malam makin meriah dan semua berajeb-ajeb dengan ceria. Saya? Ikutan lah, istilahnya kembali ke masa muda. Tapi umur tak bisa bohong, cape euy.  Saya segera menyingkir ke sisi kiri dekat pohon. Malam itu acara berakhir hingga nyaris pukul satu dini hari. Ditemani Zen, saya ada di area panggung utama hingga acara benar-benar selesai. Kemudian kami pun segera berjalan menuju homestay Kubbu.

Acara pagi

Saya keluar dari Homestay Kubbu sambil membawa gorengan dan berjalan menuju tenda. Di tenda, Nelsi dan Tya sedang menyiapkan sarapan. Sarapan kami lumayan lengkap dan seru. Bayangkan saja, sehabis makan roti kami pun menyiapkan makan berat dari nasi goreng, capcay, ayam goreng dan lain-lain. Serunya lagi, Haryo berhasil menemukan daun pisang. Sarapan sekalgus makan siang kami jadi begitu seru. Sementara di panggung utama sedang bersiap-siap dengan smoke bomb kami tetap santai.

makan kaya begini yang saya suka

Sekira jam sepuluh panitia meminta kami berkemas serta membersihkan area tenda sebab pukul sebelas kami diminta sudah ada di kapal masing-masing.

Mari pulang

Setelah semua terkemas rapi, rombongan RT 29 bersiap menuju kapal. Sebeum berjalan meninggalkan pantai pasir perawan, saya pun sempat nimbrung berfoto dengan KUBBU.

foto bareng Kubbers

Baca juga: Ulang Tahun Kubbu ketiga

Pukul sebelas, kami semua sudah berada di kapal masing-masing dan bersiap berlayar menuju Jakarta. Setelah tiba di Kaliadem, rombongan pun pulang masing-masing. Saya, Moses, Caca lanjut ke Sarinah. Matahari masih tinggi, masa iya kami sudah pulang hehehehhe.

Banyak pengalaman seru dan tentu saja kenangan indah selama kemping berlangsung. Selamat Ulang tahun yang keenam untuk Backpacker Jakarta, tetap jadi yang terbaik sesuai slogannya.

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *