Abroad

Keliling Phnom Penh Cambodia Jalan Kaki, Ini Rutenya

“Saya mohon Mbak berdua berdua berhati-hati terutama naik tuk-tuk, sudah banyak wisatawan Indonesia yang jadi korban di Phnom Penh.” kata Kang Firdaus pemilik Warung Bali, restoran Indonesia di Phnom Penh. kami menyimak dengan baik saran Kang Firdaus. Sehabis menghabiskan seporsi kangkung, tempe goreng kami pun pamit pada Kang Firdaus untuk kembali ke hotel.

Baca juga: Warung Bali, Restoran Indonesia di Phnom Penh

Saat di hotel, saya dan Bernica memikirkan kembali ucapan Kang Firdaus sambil menghitung sisa uang yang kami miliki. Kami masuk Kamboja setelah delapan hari keliling Vietnam hanya dengan uang 50 USD, sementara USD dan Riel Kamboja lah mata uang yang berlaku di negara ini.

Akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki menjelajah Phnompenh karena naik tuk-tuk minimal 2 USD per trip. Sebagai traveler ogah rugi kami lebih baik sedikit capek tapi bisa mengalokasikan uang untuk kepentingan lain. Setidaknya alokasi uang untuk transport ke bandara, makan dan membeli sedikit oleh-oleh sudah aman.

Menuju Royal Palace

Untuk mewujudkan tekad kami jalan kaki, kami mulai dengan bangun pagi dan sarapan. Sarapan di hotel ternyata hanya berupa roti tawar dan telur yang diolah menjadi beberapa menu seperti sunny side, scrambled egg dan omelette. tujuan kami yang pertama adalah Grand Palace atau istana kerajaan yang memang letaknya tak jauh dari hotel kami. Tak memiliki koneksi internet membuat kami menyiapkan diri dengan memfoto layar ponsel yang berupa jalur-jalur jalan kaki menuju tempat wisata yang ingin kami datangi.

Pukul Sembilan pagi, Udara cukup panas. Kami sudah tiba di pelataran Royal Palace. Sama seperti di Vietnam, tiket masuk Royal Palace pun cukup mahal. kami pun berfoto di beberapa tempat Royal Palace yang terbuka untuk umum dan gratis.

Gerbang Royal Palace Phnom Penh
Royal Palace Phnom Penh

Cambodia Independent Monumen

Dari Royal Palace kami lanjut berjalan menuju Independent Monumen. Banyak sekali bangunan pemerintahan, tugu dan juga pagoda. Bangunan di Kamboja ini hampir serupa dengan Thailand dengan atap yang ujungnya runcing-runcing.

Sebelum menuju Independent monumen kami melewati patung Norodom Sihanouk, Bapak perdamaian Kamboja. Meski sebelumnya saya sering mendengar dongeng tentang bapak Kamboja satu ini dari kakek saya namun baru kali ini saya melihat Norodom Sihanouk (yah meski patungnya saja) dari dekat.

Patung Norodom Sihanouk

Baca juga:http://www.greenyunita.com/2018/04/menelusuri-kisah-cinta-kakek-dan-nenek.html

Tak jauh dari patung Norodom Sihanouk, monumen kemerdekaan berdiri tegak. bentuknya serupa candi dan menjadi penanda pusat kota. Setelah berfoto di sana dan mengirimkan foto monumen tersebut ke grup whatsapp keluarga dan mereka pun jadi heboh mengenang masa kecil jalan-jalan sore di tugu tersebut sekira akhir tahun 60-an. Nenek, bude dan bulek semua bernostalgia dan ramai bicara di grup karena foto itu.

Gerbang Kemerdekaan atau Independent Monumen Kamboja

AEON Mall Phnompenh

Selanjutnya perjalanan kami teruskan menuju AEON Mall. Keren juga ya Phnom Penh sudah punya Mall besar yang sedang hits ini. Beberapa bangunan modern di kota ini pun terlihat merupakan kerjasama dengan Korea Selatan.

Meet Mister Green on the way to AEON

Jalan kaki selama sepuluh menit, akhirnya kami tiba di AEON. Surprisingly di AEON ini ada mushola. Mushola bersih dan sejuk dengan mukena yang bersih juga membuat saya senang berada di dalamnya. Usai sholat, kami belanja oleh-oleh dan makan siang di food court.

Mushola di AEON Mall Phnom Penh

KBRI Phnom Penh

Terkadang jika sedang backpacker-an ke luar negeri saya suka iseng mampir ke kedutaan besar republik Indonesia di negara itu. Anehnya sering punya rasa nasionalisme yang tinggi setiap mampir ke KBRI. Perjalanan menuju KBRI ditempuh selama lima belas menit dari AEON.

Bangunan tempo dulu dengan logo Garuda Pancasila di depan gerbangnya serta diteduhi dengan pepohonan bugenvil membuatnya begitu cantik. Kami meminta izin untuk masuk ke dalam dan berfoto di halaman depannya. Kami diterima dengan baik meski tidak ramah, agak kaget juga karena setelah berfoto di halaman depan kami diminta segera keluar karena pintu akan ditutup.

Gerbang KBRI

Saya pun terperangah akan sambutan staf KBRI yang seperti itu. Ya baiklah mungkin kami datang juga tanpa tujuan dan hanya ingin berfoto tapi agak sulit menerima perlakuan kurang ramah seperti itu apalagi dari sesama orang Indonesia. Pengalaman yang tidak ingin saya rasakan lagi.

Halaman depan KBRI

Mencoba Pijat Kamboja

Hari semakin sore, selepas kunjungan (tak berkesan) ke KBRI kami pun kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan menuju hotel kami melewati kantor partai, perpustakaan yang tertutup rapat, dan beberapa tempat ibadah serta kampus negeri. Kalau melihat namanya kampus yang kami lewati adalah perguruan tinggi pendidikan seperti UNJ dan UPI kalau di Indonesia.

kami melepas lelah di sebuah coffee shop di depan hotel G-eleven tempat kami menginap. Kopinya enak harganya standar, hampir sama dengan di Jakarta.

Alpha Coffee Shop

Malamnya, kami menghitung sisa uang yang sudah kami hemat dengan berjalan kaki dan menghindari rayuan maut tukang tuk-tuk agar bisa jalan-jalan manja di dalam tuk-tuknya hahahahaha. Ternyata sisa uang kami masih cukup untuk makan malam dan juga relaksasi di griya pijat dekat hotel.

Glee Spa tak jauh dari hotel

Dengan semangat empat lima kami berjalan menuju Glee Spa dan memilih pijat termurah. Kami pun berganti baju yang telah disediakan, sepasang baju yang sangat longgar dilengkapi dengan celana pangsi. Sebenarnya pijatnya sama saja tapi di bagian akhir ada sentuhan ala Kamboja yang seru. Sang terapis memeluk saya erat, dalam hati saya pikir ini apa sih koq peluk-peluk segala. Entah bagaimana tekniknya, setelah memeluk tiba-tiba tubuh saya diputar sampai berbunyi krak krek begitu dan voillaa pegalnya hilang semua. Duh, ingin rasanya saya peluk erat Mbak terapis.

Makan Malam Lagi di Warung Bali

Malam ini kami menghabiskan seporsi tahu goreng, pelecing kangkung dan sup ikan. Kali ini Kang Firdaus tidak ada di tempat, kami tak bisa berpamitan dengan beliau.

interior Warung Bali
tahu goreng, pelecing kangkung dan sup ikan ala Kamboja

Seperti biasa, saya dan Bernica makan dengan rasa haru biru karena tak menyangka bisa menemukan masakan rumah di Kamboja dan di akhir-akhir petualangan. Sejujurnya kami berdua sudah sangat homesick, rindu rumah, kamar dan si dia (yang entah siapa hahhahaa)

Uniknya Belanja di Central Market

Jadwal pesawat kami kembali ke Jakarta nanti sore, jadi kami masih punya waktu untuk mengunjungi pasar tradisional peninggalan Perancis di kota ini. Kebetulan Mama saya menitip prahok semacam terasi khas Kamboja dan Noomsom yang seperti kue lupis isi pisang.

penjual prahok di Central Market

Setibanya di Central Market, kami pun terkagum-kagum. Pasar tradisional ini sungguh luas dan bersih. Lucunya para pedagang di Central Market ini hanya menerima uang 1 USD, mereka tidak mau menerima uang 2 ataupun 5 USD kami. Jadi kalau berbelanja hingga 10 dollar ya harus sepuluh lembar 1 USD, aneh sekali.

Central Market

Goodbye Phnom Penh

Sekembalinya kami dari Central Market kami pun segera berkemas. Tas bawaan kami jumlahnya jadi bertambah, ini sih sudah biasa hahhahaha. Banyak sekali pengalaman dan kejutan yang kami dapatkan selama sepuluh hari jelajah Vietnam-Kamboja.

Tas yang beranak pinak

45 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *