Indonesia,  Travel

Catatan CP Rempong dari Trip Susur Jejak Cinta Dilan dan Milea

Bergaya di depan Gedung Sate

“Kak, bantuin aku jadi cp ke Bandung ya.”

Sebuah pesan whatsapp saya terima dari Moses setelah ia ditunjuk menjadi CP trip Kubbu ke Bandung. Sebagai perempuan yang pernah jadi penduduk kota cantik yang dipimpin Kang Emil ini, saya pun mengiyakan. Trip Kubbu ke Parahyangan pun direncanakan untuk dilaksanakan pada bulan Maret 2019.

Berbeda dari trip BPJ yang biasa, trip Kubbu selalu bernuansa literasi. Trip Kubbu selalu berdasarkan buku atau blog (Based on Book or Blog). Kami berdua berpikir keras, kira-kira tema apa yang cocok dan belum pernah ada trip serupa.

Rapat Program Tahunan Kubbu BPJ

Awal Januari 2019 bertempat di Maharani Guest House Tebet, seluruh anggota dapur Kubbu BPJ menghadiri rapat program tahunan. Setiap bulan Kubbu sudah memiliki program kerja yang akan digawangi oleh dua personel. Malam itu saya dan Moses sudah siap dengan program trip ke Bandung yang merujuk pada novel hits karya Ayah Pidi Baiq. Setelah presentasi, program kami pun disetujui.

Rapat agenda tahunan KUBBU di Maharani Guest House

Kerepotan pun Dimulai

Pertengahan Februari, grup panitia pun dibentuk. Kami mulai dengan membuat promosi, woro-woro, mata acara dan persiapan itinerary serta besaran share cost yang akan dibebankan pada peserta. Kami juga menyempatkan survey ke Bandung untuk menentukan itinerary.

Setelah semua persiapan matang, woro-woro pun kami umumkan di grup Backpacker Jakarta. Lucunya lagi saat woro-woro diumumkan di grup-grup RT dan klub BPJ, saya sedang mengajar di kelas. Jam 09.30 saat saya selesai mengajar dan kembali ke ruang guru, betapa kagetnya saya menemukan banyak pesan WA yang masuk. Ternyata banyak yang menanyakan trip Dilan tersebut. Surprisingly surprise seseorang yang tak perlu disebutkan namanya malah mendaftar menjadi peserta, di saat saya sendiri masih bingung bagaimana mengajak dia. Ah Tuhan memang maha baik #ehh

Masa-masa Up and Down

Menjelang awal Maret peserta trip Dilan yang ditargetkan lima puluh orang masih saja jauh dari target. Banyak yang datang dan tiba-tiba mengundurkan diri. Untungnya saya dan Moses memang tipe yang bertolak belakang, saya yang reaktif dan grasa grusu sementara Moses tipe yang santai jadi bisa saling menguatkan. Maklum saja hanya kami berdua yang menjadi ujung tombak acara ini.

Pengalaman terlucu di saat menjelang hari-H saya menerima pesan dari grup ibu-ibu Kopasus yang ingin ikut trip Dilan. Berkat ibu-ibu Kopasus itulah kuota peserta terpenuhi.

Nobar Dilan

Awal Maret, saat launching film Dilan 1991 kami mengadakan nonton bareng di TIM, targetnya adalah peserta trip dan anggota BPJ yang akan tertarik ikut trip. Kuota hanya kami sediakan 30 orang, itupun saya dan Moses yang membayarkan dulu. sayangnya ada tiga orang tak muncul dan ya gitu deh, engga tanggung jawab, buat pelajaran aja sih. Beberapa teman yang sudah nonton bilang film ini sedih, saya sudah bawa tissu banyak-banyak ehh taunya ga nangis. Kenapa ya itu? hahhahaha

Finally the D Day

Pukul enam pagi saya sudah di sekre BPJ sambil mengondisikan barang keperluan dan juga mengabsen peserta. Bus meninggalkan sekre tepat waktu dan terpaksa meninggalkan peserta yang tak datang on time . Perjalanan terbilang cukup lancar meski sempat tersendat beberapa kali di Cikarang. Pukul sebelas kami pun sudah merapat di museum geologi.

Karena rombongan cukup besar, maka dibuatlah kelompok-kelompok kecil yang diketuai oleh anggota dapur Kubbu. Begitu saya turun, saya pun segera mengurus tiket dan menyusul rombongan yang sedang foto bersama. Lucunya saat kelompok kecil saya berfoto, ternyata saat kami menengok ke belakang sudah ada rombongan sekolah yang ikut terfoto bersama kami. Lah, kirain cuma kami berenam saja hahahhaa.

Ternyata ada banyak orang di belakang kami

Di Museum Geologi kami melihat-lihat aneka koleksi dan pastinya berfoto di spot-spot kece. Tempat paling favorit untuk berfoto di museum geologi pastinya di depan fosil gajah purba alias mamuth. Saya pun pastinya tak mau kehilangan momen berfoto di depan fosil tersebut.

Dari Museum Geologi kami berjalan menuju Gedung Sate, karena hari makin terik dan panas kami pun hanya berfoto di depannya kemudian lanjut makan di gang kecil seberang Museum Geologi. Makan siang hari itu mengingatkan saya ke zaman kuliah dulu, seporsi lontong kari dengan kerupuk melimpah.

Museum Asia Afrika

Dari Museum Geologi kami pun melanjutkan perjalanan ke Museum Asia Afrika. Rombongan pun disambut dengan baik, kami juga menonton film dokumenter tentang sejarah konferensi Asia Afrika yang disekenggarakan di Bandung 1955 silam.

Setelah selesai berkeliling museum, kami pun berfoto di kawasan jalan Braga sambil berjalan menuju alun-alun Bandung. Sore di kawasan alun-alun Bandung memang cantik untuk berfoto atau sekedar duduk menikmati angin

The Panas Dalam

Highlights dari trip ini adalah diskusi santai dengan Ayah Pidi Baiq selaku penulis trilogi novel Dilan. Selain Ayah, hadir pula novelis kembar Eva dan Evi yang akan berbagi tips menulis.

Diskusi berjalan sangat lancar. Eva dan Evi yang notabene adalah adik-adik kelas saya semasa aktif di Lakon Teater UPI Bandung dulu mampu tampil dengan santai dengan tips menulis yang tentu saja mengena bagi peserta trip yang memang hobi menulis.

Kemunculan Ayah Pidi Baiq sebagai penulis Dilan memang sangat ditunggu. Terlihat sekali peserta antusias karena Ayah menyampaikan nasihatnya dengan cara jenaka. Satu yang paling mengena, Ayah bilang “buatlah ibumu bangga, maka menulislah” Jleb.

Beristirahat di Wisma PGRI

Sebuah wisma di jalan Talaga Bodas Bandung yang harganya cukup murah dan memberi diskon untuk guru, karena saya dan Moses guru kami pun bisa membawa rombongan menginap di sini. Posisinya dekat dengan pasar buku Palasari. Setelah urusan check in beres, semua peserta masuk ke kamar masing-masing.

Malam itu kamar saya menjadi tempat “ngumpul” dari sekedar bercanda, main UNO hingga ngobrol ngalor ngidul sampai dini hari.

Bubur Ayam terenak se-Asia Tenggara

Saya bangun agak kesiangan, hampir semua peserta melaporkan kalau mereka sudah jalan-jalan ke Car Free Day, sarapan dan lainnya. Jam 8-an saya baru siap dan keluar untuk sarapan. Saya, Mba Weny, Bunda, Bang Eka, Sally, Tintin dan Payjoo jalan ke arah pasar Palasari. Kami berenam berencana akan makan bubur ayam yang konon menurut Bang Eka adalah bubur ayam terenak se-Asia Tenggara.

Benar saja, saat bubur ayam Mang Jujum terhidang di depan mata dengan isian melimpah ruah saya langsung setuju kalau bubur itu dijuluki enak se-Asia Tenggara hahaha. Saya makan berdua dengan Sally, dengan harga Rp. 15.000 bubur ini porsinya cukup besar.

Tak cukup bubur, Bang Eka pun bercerita tentang mih kocok Mang Dadeng yang terenak sedunia. Mih kocok Mang Dadeng memang terkenal, tapi selama saya tinggal di Bandung saya belum pernah makan di tempatnya. Warung makan mih kocok ini baru dibuka saat kami tiba. Saya dan Sally memesan mih kocok sumsum sapi. Duh, nikmatnya tak ketulungan.

SMAN 20 Bandung, Kisah Cinta SMA Dilan dan Milea

Setelah seluruh rombongan siap, kami lanjut perjalanan menuju SMAN 20 Bandung yang menjadi lokasi shooting film Dilan. Kami masuk ke ruang kepala sekolah, ruang kelas dan semua lokasi yang ada di film. Mungkin semua orang terbawa ke kisah cinta SMA masing-masing.

Di SMA 20 ini perkenalan antar peserta dan games seru bertabur hadiah diadakan. Kemudian perjalanan pun berlanjut menuju rumah Dilan. Kami berjalan menuju rumah tua di kawasan Cihapit yang dijadikan lokasi shooting.

lucunya saat tiba di depan rumah Dilan ada sekelompok remaja yang mebawa motor seperti motor dalam film Dilan. Kami pun menjadikan foto tersebut sebagai properti foto.

Seharusnya setelah rumah Dilan, kami akan ke Cihampelas. Karena kondisi jalan yang macet maka Cihampelas pun kami lewatkan dan langsung menuju Jakarta.

Karaoke Pelepas Penat

Rombongan kami tiba di sekretariat BPJ jam enam sore. Sebelumnya kami pernah berencana untuk karaoke jika sampai Jakarta belum terlalu malam. Kami pun memilih Melly Glow PGC untuk karaoke. Tak tanggung-tanggung, kami karaoke selama tiga jam dan itupun seperti tidak terasa. Larut malam kami kembali ke rumah masing-masing.

Pengalaman pertama menjadi CP trip yang bikin gemas, resah, khawatir tapi pasti senang sekali. Terima kasih Dapur Kubbu, terima kasih peserta trip dan teman-teman yang memberi banyak bantuan. Last but not least, thanks to you ^_^

2 Comments

  • zaki

    Wah menarik nih, jadi kubbu itu sebuah klub buku ya mbak? Yang suka mengadakan trip? Wah gimana tuh cara joinnya?
    Maaf banyak tanya, penasaran sih.
    salam kenal ya.

    • missyunita

      Ignya @kubbu_bpj untuk joinnya ikut kopdar Kubbu Kak. Kebetulan bulan ini setiap hari minggu ada kopdar pelatihan blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *